Sistem Pendingin Air-Cooled dan Liquid Cooling pada Data Center: Perspektif Operasional, Efisiensi, dan Biaya

⚠️ This article has been automatically translated from Indonesian to English. Some nuances may be lost in translation.

Data center modern menghadapi tantangan termal yang semakin kompleks seiring meningkatnya densitas daya rak, berkembangnya beban kerja kecerdasan buatan (AI), serta tuntutan efisiensi energi dan keberlanjutan yang semakin tinggi. Seiring evolusi peralatan IT, sistem pendingin tidak lagi berperan sebagai infrastruktur pendukung semata, melainkan menjadi komponen operasional kritis yang secara langsung mempengaruhi ketersediaan layanan, performa sistem, dan total biaya kepemilikan (total cost of ownership). Dalam konteks ini, teknologi pendingin berbasis udara (Air cooling) dan pendingin berbasis cairan (liquid cooling) menjadi dua pendekatan utama yang digunakan oleh operator data center, masing-masing dengan karakteristik operasional dan implikasi ekonomi yang berbeda.



Aircooling System

Pendingin berbasis udara masih menjadi metode yang paling umum digunakan di berbagai data center enterprise dan colocation. Pendekatan ini mengandalkan udara terkondisi yang disuplai melalui unit CRAC atau CRAH, dikombinasikan dengan strategi containment aliran udara serta sistem pembuangan panas menggunakan chiller atau dry cooler. Karena telah digunakan selama bertahun-tahun, teknologi Air Cooling dianggap matang dan mudah dipahami, sehingga menarik bagi fasilitas yang mengutamakan kesederhanaan operasional dan pola perawatan yang sudah mapan.

Secara operasional, sistem air cooling bekerja dengan mengalirkan udara dingin ke inlet server untuk menyerap panas, yang kemudian dibuang kembali melalui jalur udara balik. Metode ini efektif untuk densitas rak rendah hingga menengah, namun efisiensinya menurun ketika beban panas meningkat. Kondisi ini memaksa sistem meningkatkan laju aliran udara dan konsumsi energi kipas. Dari sisi biaya, sistem Air Cooling umumnya memiliki kebutuhan investasi awal yang lebih rendah, tetapi biaya operasional dapat meningkat seiring bertambahnya kebutuhan energi untuk pendinginan.



Schematic of a Data Center Cooling System

Sistem Liquid Cooling pada Data Center

Sistem liquid cooling memanfaatkan cairan dengan konduktivitas termal yang jauh lebih tinggi dibandingkan udara untuk menghilangkan panas dari peralatan IT. Implementasinya dapat berupa direct-to-chip cold plates, rear-door heat exchanger, maupun teknologi immersion cooling, tergantung pada kebutuhan dan desain data center. Liquid cooling semakin mendapat perhatian seiring meningkatnya densitas daya rak yang melampaui batas praktis sistem pendingin berbasis udara.


Direct-to-Chip Cooling

Dalam pengoperasiannya, liquid cooling memindahkan panas secara langsung dari komponen berdaya tinggi ke media cairan, yang kemudian dialirkan menuju heat exchanger untuk pembuangan panas yang efisien. Pendekatan ini memungkinkan efisiensi pendinginan yang jauh lebih tinggi, mengurangi ketergantungan pada kipas server, serta menjaga stabilitas suhu peralatan IT. Meskipun membutuhkan investasi awal yang lebih besar dan keahlian operasional khusus, liquid cooling berpotensi memberikan manfaat biaya jangka panjang melalui penurunan konsumsi energi, peningkatan nilai Power Usage Effectiveness (PUE), dan umur perangkat keras yang lebih panjang.


Pertimbangan Operasional


Air to Liquid Evolution

Dari sudut pandang infrastruktur dan operasional, sistem Air Cooling sering dipilih karena kesederhanaannya, tingkat familiaritas yang tinggi, serta kemudahan integrasi dengan fasilitas data center yang sudah ada. Prosedur perawatan telah lama terstandardisasi dan dukungan teknis relatif mudah ditemukan. Sebaliknya, liquid cooling memerlukan perhatian lebih pada desain sistem, manajemen cairan, mitigasi risiko kebocoran, serta pelatihan sumber daya manusia. Namun demikian, pada lingkungan berdensitas tinggi, banyak operator menilai liquid cooling mampu memberikan stabilitas operasional yang lebih baik melalui pengendalian suhu yang lebih konsisten.


Efisiensi Energi dan Keberlanjutan

Efisiensi energi menjadi faktor kunci dalam perancangan data center, terutama di tengah meningkatnya biaya energi dan target keberlanjutan. Sistem liquid cooling menunjukkan efisiensi perpindahan panas yang lebih unggul, sehingga dapat menurunkan konsumsi energi untuk pendinginan dan memperbaiki nilai PUE secara keseluruhan. Dengan berkurangnya kebutuhan aliran udara dalam volume besar, liquid cooling juga membuka peluang pemanfaatan panas buangan dan inisiatif keberlanjutan lanjutan. Sementara itu, sistem Air Cooling masih efektif pada banyak skenario, namun menghadapi keterbatasan efisiensi ketika beban panas terus meningkat.


Implikasi Biaya Sepanjang Siklus Hidup Data Center

Pertimbangan biaya sistem pendingin tidak hanya mencakup biaya instalasi awal, tetapi juga konsumsi energi jangka panjang, kebutuhan perawatan, dan umur peralatan. Solusi Air Cooling umumnya membutuhkan investasi awal yang lebih rendah dan tetap ekonomis untuk data center dengan densitas panas moderat. Namun, ketika densitas daya meningkat, biaya operasional dapat bertambah secara signifikan. Liquid cooling, meskipun lebih mahal di tahap awal, sering kali menawarkan total biaya kepemilikan yang lebih baik untuk data center berdensitas tinggi atau yang dirancang untuk kebutuhan masa depan.


Kesesuaian Use Case dan Skenario Implementasi

Pendekatan pendinginan yang berbeda akan sesuai dengan use case data center yang berbeda pula. Sistem Air Cooling masih relevan untuk fasilitas legacy, lingkungan enterprise, dan beban kerja dengan output panas moderat. Di sisi lain, liquid cooling semakin banyak diterapkan pada data center hyperscale, high-performance computing (HPC), dan lingkungan berbasis AI, di mana kebutuhan densitas daya dan efisiensi telah melampaui kemampuan sistem pendingin udara konvensional.


Tantangan dan Keterbatasan

Terlepas dari keunggulan performanya, adopsi liquid cooling masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk persepsi risiko terkait pengelolaan cairan, kompleksitas sistem yang lebih tinggi, serta integrasi dengan infrastruktur yang sudah ada. Sementara itu, sistem Air Cooling, meskipun lebih sederhana, memiliki keterbatasan fisik dan efisiensi yang membatasi skalabilitasnya untuk data center generasi berikutnya. Pemahaman terhadap keterbatasan masing-masing pendekatan menjadi kunci dalam menentukan strategi pendinginan yang tepat.


Perbandingan Side-by-Side: Sistem Pendingin Air Cooling vs Liquid Cooling

Aspek

Sistem Pendingin Air Cooling

Sistem Pendingin Liquid Cooling

Prinsip Operasi

Menggunakan udara dingin yang disirkulasikan melalui rak server untuk menyerap dan membuang panas menggunakan unit CRAC/CRAH serta manajemen aliran udara.

Menggunakan cairan sebagai media perpindahan panas untuk menghilangkan panas secara langsung dari komponen IT atau melalui heat exchanger.

Kematangan Operasional

Sangat matang dan digunakan secara luas, dengan prosedur operasional yang mapan serta ketersediaan tenaga teknis yang tinggi.

Relatif lebih baru di lingkungan enterprise dan membutuhkan desain serta pelatihan khusus.

Efisiensi Pendinginan

Efisiensi menurun seiring meningkatnya densitas daya rak karena keterbatasan udara sebagai media pendingin.

Efisiensi perpindahan panas jauh lebih tinggi dan efektif untuk densitas rak yang sangat tinggi.

Penggunaan Listrik

Konsumsi energi pendinginan lebih tinggi

Mendukung nilai PUE yang lebih rendah dengan kebutuhan energi pendinginan yang lebih kecil sekitar 20–30% dibandingkan air    cooling tradisional

Kemampuan Densitas Rak

Cocok untuk densitas rendah hingga menengah.

Sangat cocok untuk AI, HPC, dan beban kerja berdensitas tinggi.

Kompleksitas Infrastruktur

Infrastruktur lebih sederhana dan mudah diintegrasikan.

Infrastruktur lebih kompleks karena melibatkan sistem distribusi cairan dan monitoring tambahan.

Biaya Investasi Awal (CapEx)

Lebih rendah.

Lebih mahal

Biaya Operasional (OpEx)

Dapat meningkat seiring naiknya kebutuhan energi pendinginan.

Lebih rendah dalam jangka panjang karena efisiensi energi yang lebih baik.

Potensi Keberlanjutan

Terbatas pada densitas tinggi.

Tinggi, termasuk peluang pemanfaatan panas buangan.

Use Case Umum

Data center enterprise, colocation, dan lingkungan legacy seperti email server, ERP, File server, Database Bisnis.

Data center hyperscale, AI, dan HPC.


Jenis Data Center Cooling apa yang cocok digunakan berdasarkan kategori Data Center?

Data Center terbagi ke dalam beberapa kategori, mulai dari yang paling kecil (Enterprise) hingga ke skala yang besar (Hyperscale). Seringkali, menjadi sebuah pertimbangan oleh owner untuk memilih jenis Cooling yang tepat guna untuk Data center mereka. Cooling nya sendiri terbagi ke beberapa macam, seperti Hybrid Cooling, Aircooling dan Liquidcooling. Beberapa parameter pun digunakan untuk menentukan kecocokan system pendinginan untuk Data Center tersebut, seperti luas IT space, total kapasitas daya, daya per rack, skalabilitas, dan beberapa poin lainnya. Berikut Adalah pembagian jenis Cooling berdasarkan kategori Data Center:

Parameter Teknis

Enterprise DC

Colocation DC

Hyperscale DC

Tujuan Utama

Dipakai internal satu perusahaan

Disewakan ke banyak tenant

Mendukung layanan cloud global skala besar

Luas IT Space

~500 – 5.000 m²

~5.000 – 20.000+ m²

20.000 – 100.000+ m² per campus

Total Kapasitas Daya IT

0,5 – 5 MW

5 – 40+ MW

40 – 100+ MW (bahkan >200 MW campus)

Daya per Rack

3 – 8 kW

5 – 15 kW (kadang 20 kW)

15 – 80+ kW (AI bisa >100 kW)

Jumlah Rack

Ratusan

Ribuan

Puluhan ribu

Skalabilitas

Terbatas, sesuai kebutuhan bisnis

Modular, bisa ekspansi tenant

Dibangun sebagai campus modular skala besar

Densitas Komputasi

Rendah–menengah

Menengah–tinggi

Sangat tinggi (AI/HPC heavy)

Arsitektur Pendingin Dominan

Air Cooling tradisional

Air + mulai adopsi liquid

Liquid cooling makin umum

Redundansi (Tier Umum)

Tier II–III

Tier III–IV

Tidak selalu Tier IV; fokus pada software redundancy

Pemilik Infrastruktur

Satu perusahaan

Operator DC, banyak pelanggan

Cloud provider (AWS, Google, Azure, Meta)

Efisiensi Energi (PUE tipikal) ?

1.6 – 2.0

1.3 – 1.6

1.1 – 1.3

Efisiensi energi atau PUE pada Enterprise Data Center memiliki angka yang lebih besar mulai dari 1.6 - 2.0, dikarenakan infrastruktur tua yang tidak didesain khusus untuk lebih efisien dan biasanya berada di gedung atau fasilitas lama dan masih menggunakan CRAC sebagai sistem coolingnya. Sedangkan pada Colocation Data Center, fasilitas nya memang dirancang sebagai data center, sehingga sistem pendinginannya lebih baik seperti Hybrid cooling dan Hot/Cold Aisle Containment. Hyperscale DC memiliki angka PUE yang lebih kecil, karena desain awal memang untuk efisiensi dan mulai menggunakan teknologi canggih seperti Free Cooling, Evaporative Cooling, Direct-to-chip cooling. Biasanya lokasi juga dipilih yang dekat dengan sumber energi yang murah dan dingin, seperti free cooling yang menuntut kondisi sekitar yang lebih dingin dari ruangan Data Center. 

  1. Enterprise Data Center
    Biasanya milik bank, manufaktur, pemerintahan, kampus, dll.
    Ciri-ciri:
    • Kapasitas daya relatif kecil (<5 MW IT load)
    • Rack density rendah
    • Fokus ke reliability, bukan skala ekstrem
    • Pertumbuhan lambat

      Cooling masih dominan Air Cooling, karena thermal density (Tingkat panas) belum ekstrem.

  2. Colocation Data Center
    Operator menyediakan ruang, daya, dan cooling untuk banyak pelanggan.
    Ciri-ciri:
    • Kapasitas daya menengah–besar (5–40 MW+)
    • Desain modular hall demi hall
    • Densitas mulai naik (10–20 kW/rack jadi normal)
    • Mulai sediakan high-density zones

      Mulai jadi zona transisi dari air ke liquid cooling

  3. Hyperscale Data Center
    Adapun beberapa Perusahaan seperti Amazon, Google, Microsoft dan beberapa Perusahaan teknologi besar saat ini yang memiliki Data Center dengan skala Hyperscale.
    Ciri-ciri:
    • 40 MW per site (sering 100 MW+)
    • 10.000 rack
    • Rack density bisa 30–80 kW (AI >100 kW)
    • Dibangun dalam campus bukan satu gedung
    • Dirancang untuk skala global cloud

      Air cooling sendirian tidak cukup di banyak penerapannya. Oleh karena itu, liquid cooling jadi solusi strategis untuk pendinginan di Hyperscale Data Center.

Kesimpulan

Sistem pendingin Air Cooling dan liquid cooling memiliki keunggulan dan kompromi yang berbeda ketika dibandingkan secara langsung. Pendingin berbasis udara tetap menawarkan kesederhanaan, biaya awal yang lebih rendah, dan kemudahan operasional, sehingga cocok untuk lingkungan data center saat ini. Sementara itu, liquid cooling menghadirkan efisiensi yang lebih tinggi, skalabilitas (kemampuan system untuk menghandle kenaikan kapasitas) yang lebih baik, serta keuntungan ekonomi jangka panjang untuk beban kerja berdensitas tinggi dan kebutuhan masa depan. Evaluasi secara menyeluruh terhadap karakteristik beban kerja, densitas daya, dan tujuan operasional jangka panjang menjadi faktor penentu dalam memilih strategi pendinginan yang paling tepat.


Translating article...

Please wait a moment